Beda Niat Beda Pula Artinya

Dalam kehidupan kita sehari-hari, masalah hutang piutang mungkin sudah menjadi hal yang sangat lumrah bagi kita semua. Biasanya kita akan meminjam kepada saudara, teman atau bahkan pihak lain, semisal perbankan atau koperasi simpan pinjam saat kita dihadapkan pada kebutuhan yang sangat mendesak. Atau terkadang kita juga biasa melakukan kerjasama dengan saudara, teman, perbankan ataupun koperasi simpan pinjam untuk menambah modal atau pengembangan usaha kita.

Pada saat kita melakukan hal tersebut, terkadang kita lupa akan pentingnya meluruskan AKAD dari hutang Piutang dan Kerjasama tersebut. Seringkali kita menganggapnya kedua hal tersebut adalah sama. Padahal sebenarnya hal itu sangatlah berbeda, baik dari pengertianya maupuan dari aspek hukum/syari’at nya.

Beberapa waktu yang lalu, saya mendapat sebuah sms broadcast dan juga postingan dari media online tentang ilustrasi yang menjelaskan tentang perbedaan antara hutang piutang (qardh) dan kerjasama (mudhorobah;musyarokah).

Berikut ilustrasinya:


A: Gimana kabarnya mas?
B: Sehat dek, alhamdulillah.

A: Jadi gini, mas….. selain silaturahmi saya juga ada perlu mas.
B: Ada apa dek…apa yang bisa saya bantu?

A: Anu, mas…. Kalau sampean ada uang 20juta saya mau pinjam.
B: Dua puluh juta? Banyak sekali. Untuk apa dek?

A:Tambahan modal mas. Dapat order agak besar, modal saya masih kurang. Bisa bantu mas?
B: Mmm..mau dikembalikan kapan ya?

A: InsyaAllah dua bulan lagi saya kembalikan.
B: Gitu ya. Ini mas ada sih 20juta. Rencana untuk beli sesuatu. Tapi kalau dua bulan sudah kembali ya gak apa-apa, pakai dulu aja.

A: Wah, terimakasih mas.
B: Berarti ini nanti saya dapat bagian kan, dek?

A: Bagian apa ya mas?
B: Ya kan uangnya untuk usaha, jadi kan ada untungnya tuh. Naa..kalau mas enggak kasih pinjem kan ya gak bisa jalan usahamu itu, iya kan?
*tersenyum penuh arti*

A: Oh, bisa-bisa. Boleh saja kalau mas pengennya begitu. Nanti saya kasih bagi hasil mas. Besarannya bisa kita bicarakan.
B: Lha, gitu kan enak. Kamu terbantu, mas juga dapat manfaat.

A: Tapi akadnya ganti ya mas. Bukan hutang piutang melainkan kerjasama.
B: Iyaa..gak masalah. Sama aja lah itu. Cuman beda istilah doang.

A: Bukan cuma istilah mas, tapi pelaksanaannya juga beda.
B: Maksudnya??

A: Jadi gini mas: kalau akadnya hutang, maka jika usaha saya lancar atau tidak lancar ya saya tetap wajib mengembalikan uang 20juta itu. Tapi jika akadnya kerjasama, maka kalau usaha saya lancar, mas akan dapat bagian laba. Namun sebaliknya, jika usaha tidak lancar atau merugi maka mas juga turut menanggung resiko. Bisa berupa kerugian materi→uangnya tidak bisa saya kembalikan, atau rugi waktu→ kembali tapi lama.
B: Waduh, kalau gitu ya mending uangnya saya deposito kan tho dek: gak ada resiko apa2, uang utuh, dapat bunga pula.

A: Itulah riba mas. Salah satu ciri2nya tidak ada resiko dan PASTI untung.
B: Tapi kalau uangku dipinjam si X untuk usaha ya biasanya aku dapet bagi hasil kok dek. 2% tiap bulan. Jadi kalau dia pinjam 10juta selama dua bulan, maka dua bulan kemudian uangku kembali 10juta+400ribu.

A: Itu juga riba mas. Persentase bagi hasil ngitungnya dari laba, bukan berdasar modal yang disertakan.Kalau berdasar modal kan mas gak tau apakah dia beneran untung atau tidak. Dan disini selaku investor berarti mas tidak menanggung resiko apapun donk. Mau dia untung atau rugi mas tetep dapet 2%. Lalu apa bedanya sama deposito?
B: Dia ikhlas lho dek, mas gak matok harus sekian persen gitu kok.

A: Meski ikhlas atau saling ridho kalau tidak sesuai syariat ya dosa mas.
B: Waduh…syariat kok ribet bener ya.

A: Ya karena kita sudah terlanjur terbiasa dengan yang keliru mas. Memang butuh perjuangan untuk mengikuti aturan yang benar. Banyak kalau tidak berkah bikin penyakit lho mas.hehe.
B: Hmmm…ya sudah, ini 20juta nya hutang aja. Mas gak siap dengan resiko kerjasama. Nanti dikembalikan dalam dua bulan yaa.

A: Iya mas. Terimakasih banyak mas. Meski tidak mendapat hasil berupa materi tapi insyaAllah mas tetap ada hasil berupa pahala. Amiiin..


Ternyata benar, bahwa segala sesuatu itu harus diawali dengan niat dan akad yang benar. Karena segala sesuatu akan bermakna lain jika tidak mulai dengan niat dan akad yang benar pula.

Subhanalloh…. Semoga kita bisa melaksanakannya.

 

Notes :

Saat mau memulai sesuatu, pastikan kejelasan akad dan niatnya. Karena kalau sampai kita salah menentukan akad dan niat, maka hukum dan dampknya juga akan berbeda.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s